Wednesday, December 22, 2010

A journey to COP16 in Cancun, Mexico


The United Nations Climate Change Annual Summit (referred to as COP 16) is now over. All parties, observers, and media have gone home and returned to their normal activities. But the processes and stories of COP 16 are still relevant and still need to be told.

Many people had high expectations for the event; after the failures of COP 15, the pressure for delegations to deliver was even more intense. The expectations of others, particularly those of the youth constituency was even higher; many young people, including myself, took a long journey to pressure our leaders, urging them to take legal binding action

Selected by the British Council, I embraced the opportunity to join 16 with other climate champions from around the world. Our team reflected the global reach of the British Council: European, African, Indian, South Asian, Chinese, and East Asian representatives all banded together to show that intercultural relations and education are essential ingredients of any climate change debate.

I was nominated for two reasons. First, my journey emitted less carbon because I started the trip from Arkansas in the USA. Second, because I initiated a sustainable cocoa plantation project that has reduced carbon dioxide emissions, created jobs and improved the well being of local farmers. By accepting this offer, I faced the challenge to engage in the youth movement against climate change.

Since arriving in Cancun, Mexico, I have participated in numerous events from early morning to midnight. First, Conference of Youth (COY) - is a conference that is facilitated by young people from all over the world to voice their concerns on climate change. Second, Side events - essentially these are workshops or panel discussions that look at many issues related to environmental change such as forestry, technology, etc. Third, World Climate Summit – the WCS is the business and finance conference which seeks to accelerate solutions to climate change.

All these events offered me the chance to deepen my understanding of how climate change is being tackled on the ground, at various levels of governance’s actions.

Seeking to get closer to the action, I also participated in a meeting with the Indonesian delegation. This allowed me to see how national delegations position themselves in relation to the bigger picture, form coalitions and find ways to ensure that their national interests are taken into account.

By contrast, I was lucky enough to have informal discussions with Nicholas Stern (an economist from London Schools of Economic), the UK ambassador to Mexico and the Minister for the Environment of Wales. These activities, above all else, shaped my perceptions about the UN process, my understanding of its importance to tackling climate change and Indonesia’s environmental future policy.

Equally important, these experiences have inspired me to engage more young people in my project, to work passionately on environmental issue, and share this knowledge to more people including youth and children.

Ban Ki-Moon, Secretary-General of United Nation, said in a statements at the High Level Segment of COP 16 and CMP 6 “We are here for one reason: to protect people and the planet from uncontrolled climate change…the longer we delay, the more we have to pay – economically, environmentally, and in human lives”.

These sentiments echo the perceptions of millions of people who are frustrated with the protracted nature of the climate change negotiations. Ban Ki-moon is not alone in urging world leaders to take real action.

We understand that a legal binding agreement is still not a certainty. But the earth cannot wait any longer for empty promises. Regardless of the results of COP16, actions speak louder than words.

That action has to start with ourselves, our family, and our community. I believe that micro-actions, such as turning off the lights, using energy efficient light bulbs or public transport will make a big difference. We need everyone to ‘pitch in’ so that our governments see that reducing, reusing and recycling is not simply the behavior of green individuals, but a wider societal movement toward a sustainable future.

Act now before it’s too late.

Thursday, December 9, 2010

Malam special bersama Menteri Lingkungan Hidup Wales dan Duta Besar Inggris untuk Mexico



British Council global kembali membuat kejutan untuk para climate championnya. Belum habis cerita tentang pertemuan dengan seorang ekonomis yang sangat berpengaruh, Nicolas Stern, British Council kembali mempertemukan pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Climate Champion dengan Menteri Lingkungan Hidup, Pembangunan yang berkelanjutan, dan perumahan Wales Jane Davidson, dan Duta Besar Inggris untuk Mexico Judith McGregor.

Pertemuan itu berlangsung disebuah acara yang adakan oleh kedutaan Inggris dengan menghadirkan para bisnismen dari Inggris dan dari berbagai negara. Acara ini bertujuan mengajak para pembisnis untuk ambil bagian dalam pencegahan perubahan iklim dengan konsep green solution.

Walaupun sudah dijadwalkan untuk bertemu dengan Jane Davidson dan Judith McGregor, para climate champions tidak sengaja berbicara langsung dengan Duta Besar Inggris untuk Mexico Judith McGregor sebelum acara dimulai. Setelah Climate Champions memperkenalkan diri dan asal negara, McGregor terlihat sangat gembira dengan keberadaan generasi muda di acara UNFCCC. Beliau kemudian mengajak semua climate champions berdiri di depan panggung.

Setelah membuka acara, McGregor mengatakan bahwa para Climate Champions British Council yang datang dari berbagai negara ada ditengah acara ini dan mengikuti acara UNFCCC. Beliau kemudian mengajak para climate champions untuk naik ke panggung dan memperkenalkan diri. Beliau sangat berkesan dengan keberadaan para climate champion dan mengatakan bahwa pemuda juga mempunyai peran penting dalam mengatasi masalah perubahan iklim.

Sama halnya dengan McGregor, Menteri Lingkungan Hidup, Pembangunan yang berkelanjutan, dan perumahan Wales, Jane Davidson, dalam pidatonya juga memberi respon yang sangat positif mengenai peran dan keberadaan pemuda dalam konfenrensi perubahan iklim. Secara specifik, Davidson mengatakan "Youth are the leader of tomorrow. They know what they want for their future life, therefore they should be given the opportunity to involve in UNFCCC conference" (Pemuda adalah pimpinan masa depan. Mereka tau apa yang mereka mau untuk masa depan, oleh karena itu mereka harus diberikan kesempatan untuk terlibat di konferensi perubahan iklim). Davidson juga berpesan kepada para pemuda supaya jangan berhenti dengan apa yang telah dikerjakan dan terus bekerja dan berkarya yang lebih baik di masa yang akan datang.

Setelah acara selesai, Climate Champions mempunyai kesempatan untuk berbicara secara langsung satu persatu dengan kedua orang tersebut. Climate Champions memaparkan secara singkat konsep tentang proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Umumnya, kedua orang tersebut mendengar dengan sangat teliti dan juga memberi komentar yang konstruktif.

Dengan terus berkarya, kita bisa membuat perubahan.

Monday, December 6, 2010

Climate Champions and Nicolas Stern



British Council global kembali memberikan kesempatan kepada Climate Champions-nya untuk bertemu dan berdiskusi dengan para ilmuan terkenal dunia. Kali ini, British Council mempertemukan lima climate champions-nya dengan Nicolas Stern di sela-sela acara COP16 di Cancun, Mexico.

Nicolas Stern adalah seorang profesor ekonomis yang menulis tentang perubahan iklim, ekonomi pembangunan dan growth. Dalam satu laporan reviewnya tentang ekonomi perubahan iklim, Stern mendiskripsikan perubahan iklim sebagai sebuah eksternalitas ekonomi dari kegagalan market.

Seperti dikutip wikipedia, Stern menulis "Climate change is a result of the greatest market failure the world has seen. The evidence on the seriousness of the risks from inaction or delayed action is now overwhelming..The problem of climate change involves a fundamental failure of markets: those who damage others by emitting greenhouse gases generally do not pay.."

Nick Stern mendengarkan presentasi proyek-proyek yang dikerjakan oleh climate champion dan kemudian memberi tanggapan dan masukan untuk pengembangan kedepan. Pertama, Agastha dari India mempresentasikan proyek penjagaan hutan lindung dengan melibatkan masyarakat sekitar. Kedua, Mahrizal paru dari Indonesia mempresentasikan proyek pencegahan penebangan kayu liar dan peningkatan pendapatan bagi petani dan masyarakat melalui penanaman kakao. Phuong Pham Linh dari Vietnam menjelaskan tentang daur ulang baterai. Ketiga Maria Vuorelma dari Findalandia mempresentasikan tentang kampanye perubahan iklim dan peningkatan kapasitas masyarakat. Keempat, Rory Moody dari Skotlandia menjelaskan proyek pendidikan, dan terakhir Wilson Ang dari Singapura mempresentasikan proyek eco-preneurship atau kewirausahaan lingkungan.

Selain memberi komentar dan masukan untuk setiap proyek yang dilakukan oleh climate champions, Stern juga memberikan akses untuk memperluas jaringan dan kontak person agar proyek-proyek yang ada bisa di implementasikan. Dia juga mendorong agar lebih banyak kaum muda bergerak dan berbuat sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim.

Secara pribadi, pertemuan ini memberikan semangat baru agar bisa berbuat lebih banyak kedepan dengan melibatkan lebih banyak kaum muda, masyarakat adat, petani, dan berbagai kelompok masyarakat.

Mahrizal - dari Moon Palace, Cancun, Mexico.

Sunday, December 5, 2010

Forest Day - Memperingati hari hutan-



Hutan merupakan salah satu faktor penting dalam mencegah perubahan iklim. Menurut para ilmuan, hutan dapat menyerap karbon diaksida yang dilepaskan oleh kegiatan manusia. Oleh karena itu, keberlangsungan hutan merupakan faktor kunci untuk menurunkan gas rumah kaca. Untuk memperingati hari hutan, CIFOR (Center for International Forestry Research) mengadakan pertemuan akbar yang dibuka oleh Presiden Mexico Filipe Calderon. Menurut informasi yang diterima dari panitia, acara yang bertema Forest Day – Time to Act – ini dihadiri oleh 1,800 orang dari berbagai organisasi di seluruh dunia.

Dalam Pidatonya, Presiden Mexico menggarisbawahi dua point penting untuk menjaga keberlangsungan hutan. Pertama peningkatan ekonomi pembangunan, dengan membantu melindungi sumber ekonomi dan pendapatan masyarakat adat dan masyarakat yang bergantung hidupnya dengan hutan. Banyak masyarakat adat terlibat dalam penebangan kayu liar agar bisa menyambung hidup. Makanya, untuk mengatasi hal tersebut, kemiskinan harus diberantas bagi masyarakat tersebut. Presiden memberikan contoh masyarakat adat Mexico yang melakukan pembersihan lahan untuk menanam jagung. Pada penanaman pertama, hasil yang di dapat sangat bagus, namun untuk tahun-tahun selanjutnya hasil panen terus menurun. Oleh karena itu, “kita memerlukan management di tingkat bawah, terutama ditingkat bawah agar bisa menghasilkan lebih bagus.” Presiden melihat kemiskinan merupakan salah satu penghadang untuk mencegah perubahan iklim. Bagi Mexico “Today fight poverty, another day fight for climate change” (Hari ini kita berantas kemiskinan, esok kita melawan perubahan iklim).

Untuk point ke dua, Presiden mengungkapkan pentingnya peningkatan sumber daya yang dialokasikan dibidang kehutanan. Mexico mengalokasikan sekitar 500 juta dollar Amerika untuk hutan dibeberapa tahun yang lalu, dan jumlah dana yang dialokasikan dibidang ini terus meningkat mencapai 620 juta dollar Amerika. Presiden mengungkapkan bahwa ia juga ingin meningkatkat jumlah kawasan hutan lindung. Diakhir pidatonya, Presiden mangajak semua pihak untuk memberi tekanan kepada para pihak yang berdialog di COP16 terutama dibidang mekanisme REDD+ dan mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak (Now time to act).

Dilaporkan langsung dari Cancun Center, Cancun, Mexico.