Wednesday, December 1, 2010

Climate Champion British Council di COP16, Cancun, Mexico


British Council percaya bahwa pemuda/pemudi bisa menciptakan perubahan. Lembaga yang berbasis di Inggris ini mengirimkan 15 duta perubahan iklim atau climate champions ke COP (Conference of Parties) 16 di Cancun Mexico. Climate champions tersebut berasal dari berbagai belahan dunia yang berbeda dan diutus dengan tujuan mempromosikan penggunaan hubungan budaya untuk menemukan solusi perubahan iklim.

Para Climate champions umumnya memiliki proyek komunitas yang mampu menciptakan perubahan. Kaum muda ini mewakili bidangnya masing-masing seperti pendidikan, media, NGO, pemerintah, dan lingkungan. Di COP16 Climate champions di harapkan dapat berpartisipasi di side event program, kegiatan kepemudaan, pendekatan ke delegasi negaranya masing-masing dengan membawa pengalaman yang dimiliki selama menjalankan proyek-proyek komunitas. Selain itu, mereka juga bertindak atas nama kelompok masyarakan dinegaranya masing-masing, Negara, dan juga british council.

Mereka adalah Jon Alexander dari Inggris, Wilson Ang dari Singapura, Daniela Aravena dari Chile, Narisela Blanco dari Venezuela, Tania Yaoska Guillen Bolanos dari Nicaragua, Mariana Diaz dari Argentina, Camilo Andres Jimenez Giraldo dari Colombia, Angella Katatumba dari Uganda, Nolana E. Lynch dari Trinidad dan Tobago, Phuong Pham Linh dari Vietnam, Jiny Mainaly dari Nepal, Constanza Stephanie Gomez Mont dari Mexico, Rory Moody dari Scotland, Mahrizal Paru dari Indonesia, Pedro Gandolfo Soares dari Brazil, Hasan Abdullah Towhid dari Bangladesh, Maria Vuorelma dari Findalandia, dan Yinghang dari Cina.

Perjalanan ke konvensi perubahan iklim Cancun, Mexico

Catatan harian to Cancun, Mexico.

Saya, Mahrizal Paru, memulai perjalanan ke konvensi perubahan iklim Cancun, Mexico dari Arkansas, Amerika Serikat. Salah satu alasan saya di pilih oleh British Council untuk mengikuti acara ini adalah karena perjalanan saya mengeluarkan karbon yang rendah dibandingkan dengan perjalanan dari Indonesia. Syarat yang lain adalah adanya implementasi kerja yang berdampak langsung untuk mengurangi perubahan iklim. Dalam hal ini, proyek yang saya kerjakan adalah penglibatan masyarakat, khususnya petani dalam hal penanaman kakao dan canopy.

Saya berangkat menggunakan pesawat US Airways dari Northwest Arkansas, Arkansas transit di Charlotte, North Carolina, dan Cancun, Mexico. Bandar udara international Cancun nampak begitu ramai dengan wajah penumpang dari berbagai negara. Saya seakan berada di tengah keberagaman penduduk dunia. Ketika menghadap petugas imigrasi, mereka membuka halaman pertama untuk memastikan pemegang passport tersebut benar orangnya, kemudian memastikan visa. Saya memang sangat beruntung tidak perlu memohon visa Mexico karena saya masih mempunyai visa Amerika Serikat. Pemerintah Mexico memberikan pengecualian bagi pemegang visa Amerika untuk masuk ke Mexico tanda harus ada visa Mexico. Saya kembali mempunyai masalah dengan nama, masalahnya adalah karena saya memiliki satu nama di passport yang tentu tidak jelas nama pertama dan terakhir. Petugas imigrasi bingung ingin memasukkan data nama terakhir saya. Mereka tanya tentang FNU (First name unidentified), apakah itu nama pertama saya. Saya bilang itu artinya nama pertama tidak diketahui, dan mereka pun Nampak seperti bingung. Saya suruh mereka untuk meletakan dua kali nama yang tertera di passport “Mahrizal Mahrizal”. Saya meminta hanya 12 hari periode tinggal, namun saya diberikan 180 hari. Ini sungguh luar biasa.

Saya di jemput oleh staff British Council Mexico, Ana, orang nya sangat baik dan sangat bersahabat. Dia mengajarkan saya dasar-dasar bahasa Spanyol, walaupun akhirnya sebagian besar saya lupa apa yang diajarkannya. British Council juga menyediakan akomosasi yang bagus dan jauh dari kebisingan. Beberapa Climate champion British Council dari beberapa Negara telah tiba lebih awal. Kali ini British Council membawa sekitar 17 climate champions mewakili beberapa kawasan regional dunia seperti asia tenggara, latin amerika, asia selatan, eropa dan beberapa region lainnya.

Makan malam pertama kami disebuah rumah makan tepi panti penuh dengan kemeriahan. Kami saling berkenalan satu sama lainnya dan menceritakan apa yang kami kerjakan. Kami juga dihibur oleh para pengamen berjas putih dan berdasi. Sekarang kami bisa mendengarkan langsung lagu-lagu Mexico yang biasa kita lihat di layar televisi.

Ikuti perjalanan saya ke Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Cancun, Mexico. Semoga banyak manfaat yang akan didapatkan dan dibawa pulang ke Indonesia.

Saturday, October 16, 2010

Kansas dan Colorado







Walaupun sudah 6 hari kami dalam perjalanan, semangat untuk mencapai destinasi terakhir tetap tinggi. Sebelum memulai perjalanan, kami bersarapan pagi di kamar hotel dengan menu yang tersisa.

Setelah melakukan pengecekan kenderaan, kami meninggalkan Hotel 6 dan mengarahkan tujuan arah kenderaan ke Kota Boulder, Colorado. Perjalanan hari itu juga memakan waktu lebih 10 jam, yang pasti termasuk berhenti di rest area.


Seperti dalam perjalanan sehari sebelumnya, kami masih harus melalui luasnya lahan pertanian yang luas. Daerah Kansas bisa dibilang sangat datar dan penuh dengan daerah pertanian. Bisa dibayangkan, 8 jam perjalanan hanya menyaksikan lahan jagung, gandum, dan kacang kedelai. Sungguh luas lahan pertanian di daerah ini. Umumnya para petani memiliki lahan beratus hektar per orang. Tentunya mereka menggunakan teknology yang moderen untuk menanam, memupuk dan memanen, seperti traktor dan pesawat kecil untuk menyomprot hama.

Kalau seandainya lahan seluas ini ada di Indonesia, mungkin pendapatan masyarakat sangat tinggi.

Kagum dengan situasi geografis daerah ini, namun bosan juga datang karena tidak ada pemandangan baru selain lahan pertanian. Yang mengemudi harus extra hati-hati karena bisa tertidur. Daerah ini juga unik, kecepatan kenderaan di bolehkan mencapai 85 mile per jam.

Yang sangat menarik bagi saya adalah ketika hendak mengisi bahan bakar, kami tidak menjumpai SPBU. Akhirnya kami mengikuti rambu lalu lintas yang menunjuk arah SPBU. Rambu tersebut merujuk ke salah satu SPBU kecil yang berjarak sekitar 5 KM dari jalan tol. Nasib baik pada waktu itu tidak memihak pada kami, SPBU tutup. Namun yang sangat menarik bagi saya adalah melihat arsitektur bangunan dan SPBU yang seperti bangunan yang ada di film koboy.

Sesaat sebelum tiba dikota Denver, kami melawati daerah pengunungan yang begitu mempesona. Sebagian besar bukit dan gunung didaerah ini diselimitu salju. Dikaki bukit, banyak ternak yang merumput dengan tenang. Demikian juga dengan rumah penduduk, mereka terletak rapi mengikuti alur dan kemiringan bukit.

Malam itu kami menginap di apartment seorang mahasiswa yang sedang belajar di Coloro. Mereka pun berbagi cerita tentang daerah tersebut, cuaca, dan masyarakat sekitar.

Diawal pagi, kami menuju ke rumah seorang mahasiswa yang belajar di Colorado School of mine. Karena hari itu hari raya idul adha, kami melaksanakan solat ied di sebuah mesjid di daerah Golden, Colorado. Jemaah pada hari itu di dominasi oleh para pelajar dari timur tengah, khusus nya Saudi Arabia.

Karena tidak ingin membuang waktu, selesai sembahyang, khutbah dan silaturahmi kami memutuskan untuk mengunjungi danau yang sudah menjadi es, kota Denver, dan beberapa object wisata lainnya. Malamnya, kami dijamu oleh seorang warga Indonesia dari Medan di acara ulang tahun anak nya. Lagu Batakpun terdengar cukup semarak malam itu.

Esoknya kami memutuskan bermain ski di Eldora Mountain Resort. Harga tiket masuk dan peralatan bermain ski sekitar $65. Biarpun mahal, saya memutuskan untuk bermain. Namun, bayaran semahal itu tidak setimpal dengan pengalaman ber ski. Saya banyak terjatuh ketika bermain. Saya pun menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang tidak mungkin saya dapatkan di Indonesia.

Saya berharap suatu saat dapat kembali ikut dalam Road Trip mengunjungi daerah lain yang belum saya kunjungi.

Perjalanan pulang melewati jalur yang sama, kami pun menginap di hotel yang sama di Wichita. Karena rombongan kami berasal dari dua daerah berbeda, kami berpisah di Wichita.

Setelah 10 hari dalam perjalan, saya sangat merindukan Fayetteville, kota dimana saya tinggal. Yang lebih dirindukan adalah tempat tidur yang sudah 10 hari ditinggalkan.

The end.

Sunday, October 10, 2010

Texas - Oklahoma - Kansas






Sudah sangat lama rasanya saya tidak menulis di blog ini. Cerita tentang perjalanan ke lima negara bagian di Amerika serikat sepertinya tidak pernah tuntas. Malam ini saya berniat untuk menuliskan pengalaman tersebut sampai selesai. Paling tidak, hampir-hampir selesai.

Tulisan perjalanan tersebut masih berlanjut. Hari itu, Kami melakukan perjalanan melewati Dallas, Oklahoma, dan bermalam di Wichita, Kansas. Perjalanan tersebut menempuh waktu lebih dari 13 jam. Sungguh merupakan suatu perjalanan yang panjang.

Kami singgah ditempat seorang warga Aceh yang menetap di Texas. Sungguh seperti pulang kampung, kami dihidangkan udang masak asam,ayam, dan sayur. Sunggu luar biasa masakan tersebut. Walaupun sempat kesasar karena salah memasukkan alamat sewaktu men-setup GPS, makan siang di Dallas membuat kami lupa pernah tersesat dikota itu. Tuan rumah juga menghidangkan kopi kepada kami, tentu nya sambil menikmati obrolan ringan.

Kami meninggalkan kota Dallas sekitar jam 2:30 sore, dan meluncur terus ke wilayah Oklahoma dan mengemudi lebih dari 6 jam. Kami berhenti di daerah yang dekat dengan perbatasan antara Oklahoma dan Kansas. Pilihan kami kali ini ini jatuh di daerah perbelanjaan yang ada Wal-mart. Santapan makan malam penuh dengan lauk dan sayur yang khusus di bawa dari Texas. Tempat makannya pun sangat unik, pilihannya jatuh dilahan parkir Wal-mart dan ditemani oleh cuaca yang sangat dingin. Bisa dibayangkan, nasi yang panas diletakkan diatas piring langsung dingin. Malam itu, makan malam kami seperti memakan es. Memang sungguh perjalanan yang sangat menarik.

Setelah makan dan membereskan semua sampah, kami lanjutkan perjalanan ke Wichita. ke sebuah hotel yang telah di booking online. Walaupun hampir tersesat, akhirnya kami tiba di Hotel 6 sekitar pukul 11:30 malam.
Nasib baik pun memihak kepada kami waktu itu, seorang penjaga hotel yang berasal dari Pakistan memberikan cash back sebagai pengganti sarapan pagi. Maklum, esoknya hari raya Idul Adha. Sebagai pengganti traktiran sesama muslim katanya.